PAITON – Siapa sangka, seorang putra dari desa Bucor, kecamatan Pakuniran, yang pernah menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Paiton (SMATUPA), kini berdiri sebagai profesor dan kembali ke almamaternya untuk menyalakan mimpi generasi penerusnya. Bukan sekadar pulang membawa gelar, Prof. Dr. Ahmad Taufiq datang membawa pesan tentang perjuangan, ketekunan, dan keberanian menatap masa depan.
Jumat pagi (9/10/2026), aula SMAN 1 Paiton menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman dan harapan. Di hadapan seluruh siswa kelas XII, Ahmad Taufiq membagikan motivasi sekaligus kiat menghadapi persaingan masuk Universitas Negeri Malang (UM). Bagi para siswa yang tengah bersiap meninggalkan bangku SMA, pertemuan itu menjadi kesempatan untuk melihat masa depan dari sudut pandang seseorang yang telah menempuh perjalanan panjang di dunia akademik.
Nama Ahmad Taufiq bukan sekadar kebanggaan bagi almamaternya. Ia dianugerahi predikat profesor termuda di Universitas Negeri Malang pada usia di bawah 40 tahun. Rekam jejaknya juga mencakup prestasi sebagai peneliti terbaik pertama di UM serta masuk tiga besar peneliti terbaik Indonesia berdasarkan Science and Technology Index (SINTA).
Pencapaian tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan seorang alumni yang kini kembali untuk berbagi inspirasi. Di hadapan siswa, keberhasilannya seolah menghadirkan pesan bahwa tempat seseorang memulai perjalanan tidak harus membatasi sejauh mana ia dapat melangkah.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB itu dibuka oleh Kepala SMAN 1 Paiton, Khoirul Anam, S.Si., S.Pd. Hadir pula para wakil kepala sekolah, guru bimbingan konseling (BK), serta wali kelas XII.
Dalam sambutannya, Khoirul Anam mengingatkan bahwa kelulusan SMA bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan. Justru, fase tersebut menjadi titik penting bagi siswa untuk menentukan arah masa depan.
Memilih perguruan tinggi, menurutnya, perlu dilakukan dengan pertimbangan matang dan persiapan sejak dini. Semangat belajar harus tetap dijaga agar cita-cita tidak berhenti sebagai angan-angan.
Pesan itu kemudian menemukan konteksnya dalam pemaparan Ahmad Taufiq. Ia mendorong para siswa untuk memiliki kemauan kuat dalam meraih masa depan. Baginya, keinginan untuk berhasil harus disertai usaha nyata, kesungguhan belajar, serta kemauan untuk terus mengembangkan kemampuan.
Sebab, cita-cita tidak cukup hanya diucapkan. Ia membutuhkan tindakan, ketekunan, dan keberanian menghadapi proses yang tidak selalu mudah.
Di tengah persaingan masuk perguruan tinggi negeri, siswa sering kali dihadapkan pada tuntutan untuk meraih hasil terbaik. Namun, perjalanan setiap orang tidak selalu sama. Ada yang menemukan keunggulan dalam bidang akademik, ada pula yang berkembang melalui potensi dan minat yang berbeda.
Ahmad Taufiq mengingatkan para siswa agar tetap menjadi diri sendiri dan berusaha memberikan yang terbaik pada bidang yang diminati. Mereka perlu mengenali potensi, mengasah kemampuan, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan.
Kehidupan, sebagaimana pesan yang disampaikannya, tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Karena itu, kemampuan menghadapi tantangan menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kesuksesan.
Pesan tersebut relevan bagi siswa kelas XII yang sebentar lagi menentukan langkah berikutnya. Masuk perguruan tinggi negeri memang menjadi impian banyak orang, tetapi perjalanan menuju ke sana
Kehadiran Ahmad Taufiq menghadirkan makna lebih dari sekadar sosialisasi perguruan tinggi. Ia menjadi pengingat bahwa hubungan antara alumni dan almamater dapat terus hidup melalui pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi yang dibagikan kepada generasi berikutnya.
Bagi siswa SMATUPA, kisah alumninya dapat menjadi dorongan untuk berani bermimpi lebih tinggi. Bukan untuk membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, melainkan untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki kesempatan berkembang melalui kerja keras dan proses belajar.
Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Paiton berharap para siswa kelas XII semakin mantap menentukan pilihan perguruan tinggi, mempersiapkan diri menghadapi seleksi, dan merancang masa depan sesuai minat serta kemampuan masing-masing.

Pagi itu, Ahmad Taufiq tidak hanya berbicara tentang cara menembus Universitas Negeri Malang. Ia juga membawa pesan yang lebih luas: masa depan tidak ditentukan hanya oleh tempat seseorang berasal, tetapi turut dibentuk oleh kemauan untuk belajar, ketekunan dalam berproses, dan keberanian untuk terus melangkah. (Yd)

